Security Operations Center (SOC) merupakan pusat operasi keamanan yang bertugas memantau, mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman siber selama 24 jam. Agar proses tersebut berjalan efektif, SOC umumnya memiliki pembagian peran berdasarkan tingkat keahlian atau tier. Pembagian ini membantu setiap insiden ditangani oleh personel yang tepat sesuai tingkat kompleksitasnya.
Istilah Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 SOC Analyst sering digunakan dalam struktur SOC modern. Masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda, mulai dari monitoring awal hingga investigasi mendalam terhadap serangan yang kompleks.
Pada artikel ini, Anda akan memahami perbedaan tier 1 2 3 SOC analyst, tugas setiap level, serta bagaimana struktur tim SOC bekerja untuk menjaga keamanan perusahaan.
Mengapa SOC Memiliki Pembagian Tier?
Dalam lingkungan perusahaan, jumlah alert keamanan yang dihasilkan setiap hari dapat mencapai ratusan bahkan ribuan. Tidak semua alert merupakan ancaman nyata. Banyak di antaranya adalah false positive yang harus diverifikasi sebelum dilakukan eskalasi.
Apabila seluruh alert langsung ditangani oleh analis senior, produktivitas tim akan menurun dan waktu respons menjadi lebih lama. Oleh karena itu, SOC menggunakan sistem tier agar setiap insiden diproses secara bertahap sesuai tingkat risiko dan kompleksitasnya.
Pembagian ini memberikan beberapa manfaat, di antaranya:
- Proses triase insiden menjadi lebih cepat.
- Mengurangi beban analis senior.
- Meningkatkan efisiensi investigasi.
- Mempercepat proses eskalasi.
- Meningkatkan kualitas respons terhadap insiden keamanan.
Tier 1 SOC Analyst
Tier 1 merupakan garis depan dalam operasional SOC. Tugas utamanya adalah memantau dashboard keamanan, melakukan validasi awal terhadap alert, dan menentukan apakah suatu aktivitas memerlukan investigasi lebih lanjut.
Aktivitas Tier 1 biasanya meliputi:
- Monitoring SIEM selama 24/7.
- Melakukan triase terhadap alert keamanan.
- Mengelompokkan tingkat prioritas insiden.
- Menutup alert yang terbukti sebagai false positive.
- Mengeskalasikan insiden yang memerlukan analisis lebih lanjut.
Tier 1 harus memiliki kemampuan memahami log keamanan, indikator serangan dasar, serta prosedur operasional SOC. Fokus utama mereka adalah memastikan tidak ada alert penting yang terlewat.
Tier 2 SOC Analyst
Ketika sebuah insiden dinilai memerlukan investigasi lebih lanjut, kasus tersebut akan diteruskan kepada Tier 2 SOC Analyst.
Pada level ini, analis bertugas melakukan investigasi teknis untuk menentukan penyebab insiden, ruang lingkup dampak, serta langkah mitigasi yang diperlukan.
Tanggung jawab Tier 2 antara lain:
- Menganalisis log dari berbagai sumber.
- Melakukan korelasi indikator kompromi (IOC).
- Mengidentifikasi teknik serangan.
- Melakukan proses containment awal.
- Memberikan rekomendasi mitigasi kepada tim operasional.
Tier 2 umumnya menggunakan berbagai alat seperti SIEM, EDR, threat intelligence, serta platform analisis log untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai insiden yang sedang ditangani.
Tier 3 SOC Analyst
Tier 3 merupakan level analis dengan keahlian teknis paling tinggi dalam struktur SOC. Mereka menangani ancaman yang kompleks, serangan tingkat lanjut (Advanced Persistent Threat), serta kasus yang tidak dapat diselesaikan oleh Tier 1 maupun Tier 2.
Selain melakukan investigasi mendalam, Tier 3 juga berperan dalam meningkatkan kemampuan deteksi SOC melalui pengembangan aturan deteksi baru, threat hunting, dan analisis malware apabila diperlukan.
Perbandingan Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 SOC Analyst
Setiap level analis dalam SOC memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Berikut gambaran perbedaannya.
| Level | Fokus Utama | Tanggung Jawab |
|---|---|---|
| Tier 1 | Monitoring & Triase | Memantau alert, memvalidasi insiden awal, melakukan eskalasi. |
| Tier 2 | Investigasi | Menganalisis insiden, melakukan containment awal, memberikan rekomendasi mitigasi. |
| Tier 3 | Advanced Analysis | Threat hunting, analisis malware, pengembangan detection rule, menangani serangan kompleks. |
Dengan pembagian tersebut, setiap insiden dapat ditangani secara efisien sesuai tingkat kompleksitasnya. Model ini juga membantu organisasi mempercepat proses deteksi sekaligus mengoptimalkan penggunaan sumber daya keamanan.
Skill yang Dibutuhkan pada Setiap Tier
Meskipun bekerja dalam satu tim, kemampuan teknis yang dibutuhkan pada setiap tier berbeda sesuai tanggung jawabnya.
Tier 1
- Memahami dasar keamanan siber.
- Mampu membaca log keamanan.
- Memahami SIEM dan dashboard monitoring.
- Komunikasi yang baik dalam dokumentasi insiden.
Tier 2
- Analisis log tingkat lanjut.
- Investigasi endpoint dan jaringan.
- Pemahaman mengenai IOC dan TTP.
- Penanganan insiden (Incident Response).
Tier 3
- Threat hunting.
- Analisis malware.
- Digital forensic dasar.
- Reverse engineering (sesuai kebutuhan).
- Pengembangan detection rule untuk SIEM dan EDR.
Semakin tinggi level analis, semakin besar pula kebutuhan akan pengalaman teknis, kemampuan analitis, dan pemahaman terhadap berbagai teknik serangan siber.
Apakah Semua SOC Hanya Memiliki Tiga Tier?
Tidak selalu. Struktur SOC dapat berbeda tergantung ukuran organisasi, tingkat kematangan keamanan siber, dan kebutuhan operasional. Pada perusahaan yang lebih besar, struktur tim biasanya mencakup beberapa peran tambahan seperti:
- SOC Manager.
- Incident Response Specialist.
- Threat Hunter.
- Threat Intelligence Analyst.
- Security Engineer.
- Digital Forensic Specialist.
Peran-peran tersebut bekerja sama untuk memastikan proses detaleksi, investigasi, respons, hingga peningkatan kemampuan keamanan berjalan secara berkesinambungan.
Kapan Perusahaan Membutuhkan Managed SOC?
Membangun SOC internal memerlukan investasi yang tidak sedikit, mulai dari perekrutan analis, implementasi teknologi seperti SIEM dan EDR, hingga penyediaan layanan monitoring selama 24 jam. Bagi banyak organisasi, terutama perusahaan yang sedang berkembang, memenuhi seluruh kebutuhan tersebut dapat menjadi tantangan.
Karena itu, banyak perusahaan memilih menggunakan layanan Managed SOC. Dengan pendekatan ini, organisasi tetap memperoleh kemampuan monitoring, deteksi, dan respons insiden tanpa harus membangun seluruh infrastruktur SOC sendiri.
Managed SOC juga memberikan akses ke tim analis dengan berbagai tingkat keahlian, proses operasional yang telah terstandarisasi, serta pemantauan ancaman secara berkelanjutan.
Temika Mendukung Operasional SOC Modern
Mengelola SOC yang efektif membutuhkan kombinasi antara teknologi, proses, dan sumber daya manusia yang kompeten. Pembagian tugas antara Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 membantu organisasi mempercepat deteksi ancaman sekaligus meningkatkan kualitas respons terhadap insiden.
Melalui layanan SOC Operation Services, Temika membantu perusahaan memperoleh layanan pemantauan keamanan, analisis insiden, serta dukungan respons keamanan yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Pendekatan ini membantu perusahaan meningkatkan visibilitas terhadap ancaman sekaligus memperkuat kemampuan operasional keamanan siber.
Temika didukung oleh pengalaman sekitar 8 tahun, menerapkan standar ISO 27001, serta memiliki tim profesional dengan sertifikasi OSCP, CRTO, dan CRTP. Layanan disusun mengikuti praktik terbaik industri untuk membantu organisasi meningkatkan ketahanan terhadap ancaman siber yang terus berkembang.
Kesimpulan
Memahami perbedaan tier 1 2 3 SOC analyst membantu perusahaan melihat bagaimana sebuah Security Operations Center bekerja dalam mendeteksi dan merespons ancaman secara efektif. Setiap tier memiliki tanggung jawab yang berbeda, mulai dari monitoring awal, investigasi teknis, hingga penanganan ancaman tingkat lanjut.
Dengan struktur tim SOC yang jelas, organisasi dapat mempercepat proses triase, meningkatkan kualitas investigasi, dan memperkuat respons terhadap insiden keamanan. Bagi perusahaan yang belum memiliki sumber daya untuk membangun SOC sendiri, layanan Managed SOC dapat menjadi alternatif yang lebih efisien untuk memperoleh kemampuan keamanan siber yang berkelanjutan.







